Petani Ini Ternak Sapi Limosin Seharga Rp 20 Juta

Petani Ini Ternak Sapi Limosin Seharga Rp 20 Juta

Foto: Dana/detikFinance

Jakarta -Masih ingat dengan Komplek Peternakan Padang Mengatas? Peternakan yang dikelola‎ Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak Padang Mengatas‎ Kementerian Pertanian ini, selain memelihara sapi di padang rumput yang luas, pengelola juga melakukan pembinaan kepada masyarakat sekitar untuk memelihara dan membiakkan sapi jenis Limosin dan Semental asal Australia.

Adalah Yunizur, petani binaan yang dibina oleh Kepala Balai Sugiono dan timnya bisa mengembangbiakkan sapi raksasa yang beratnya bisa lebih dari 700 Kg seharga Rp 20 juta.

“Dulu saya sudah beternak sapi, tapi tidak seperti sekarang. Belum tahu tekniknya, jadi memelihara sapi seperti biasa saja. Diberi makan saja biar besar,” ujar Yunizur saat berbincang dengan detikFinance di kandang milik kelompok taninya, akhir pekan lalu.

Yunizur bersama 60 petani lainnya mengaku mulai mendapat pembinaan sekitar tahun 2012 dari pengelola Balai‎. Sejak saat itu, kelompok taninya mulai belajar bagaimana mengolah pakan sehingga bisa menbuat sapi ternaknya gemuk lebih cepat.

Yunizur juga belajar bagaimana melakukan inseminasi buatan alias perangsang buatan agar sapi-sapi ternaknya bisa berkembang biak secara berkala.

Di sekitar kandang, ia bersama petani lainnya menanam berbagai jenis rumput dan tanaman kacang-kacangan yang sedianya akan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan pakan.

“Pakan nggak perlu beli. Pak Sugi (Kepala Balai, Sugiono) mengajarkan kami cukup menanam rumput. Ini ada rumput gajah, ada rumput gembala, ada legum (sejenis kacang-kacangan). Ini nantinya buat pakan,” ujar dia sembari menunjuk ke arah semak rerumputan setinggi satu meter yang ada di sekeliling kandang.

Dalam memberikan pakan, kata dia, tidak setiap hari sapi-sapi peliharannya diberikan pakan yang sama.

“Ini kan rumputnya banyak jenisnya. Jadi hari ini makan apa, besok makan apa, sudah ada jadwalnya,” sambung dia.

Pakan pun tidak diberikan begitu saja. Ada mesin pencacah rumput yang merupakan bantuan dari pihak balai yang digunakan untuk memotong rumput sehingga sapi tidak kesulitan dalam mencerna makanan.

Tidak lupa, kata dia, kebersihan kandang juga dijaga agar sapi tetap sehat dan tidak berpenyakit.

Dengan cara ini, sapai-sapi peliharaan kelompok taninya bisa tumbuh hingga mencapai bobot 700 kg dalam kurun waktu dua tahun.

“Kalau s‎udah 700 kg, dijual harganya Rp 20 juta,” ungkapnya.

Dalam sekali panen, ujar dia, kelompok taninya bisa menjual‎ hingga 30 ekor sapi jantan usia 2 tahun. Dengan asumsi harga satu ekor Rp 20 juta maka kelompok tani ini bisa mengantongi Rp 600 juta sekali panen.

“Yang dijual atau dipotong hanya yang jantan dewasa saja. Kalau yang betina tetap kita pelihara untuk berkembang biak,” jelas dia.

Kelompok tani ini pun cukup terampil. Mereka sudah menjadwalkan secara berkala inseminasi buatan. Sehingga setiap jangka waktu tertentu, akan ada sapi-sapi baru yang dilahirkan di kandang ini.

Dengan demikian, kelompok tani ini bisa menjaga jumlah populasi sapinya tetap ideal dan memperoleh pendapatan rutin‎ dari hasil beternak sapi.

“Alhamdulillah, dulu kalau mau sekolahkan anak berat, sekarang nggak ada halangan. Ada saja pemasukannya dari beternak sapi ini,” ungkap dia.

Biasanya, kata dia, inseminasi buatan dilakukan 3 bulan setelah sapi betina melahirkan dengan lama masa mengandung kurang lebih 9 bulan. Umumnya, dalam sekali melahirkan, bisa menghasilkan 1-2 ekor anak sapi.

Saat ini, kelompok tani tersebut memiliki sedikitnya 10 sapi betina, artinya dalam kurun waktu 12 bulan ada 10-20 ekor anak sapi dilahirkan di kandang ini.

Menyinggung soal modal awal kegiatan peternakan kelompok tani ini, ia mengaku kelompoknya menghabiskan biaya kurang lebih Rp 250 juta yang digunakan untuk membangun kandang, dan membeli beberapa sapi indukan serta seekor sapi pejantan.

“Mereka cukup investasi 1 kali saja. Selebihnya pengeluaran mereka nggak banyak. Rumput mereka tanam bisa tumbuh terus asal cukup air. Pupuknya bisa dari kotoran sapi itu sendiri. Untuk inseminasi buatan, paling mereka bayar jasa mantri Rp 50.000. Itu bayar sekali sampai si sapi bunting (hamil),” ujar Sugiono pada kesempatan yang sama.‎

“Kalau mau bicara pelihara sapi, peternak kita ahli kok. Mereka padahal nggak pernah kuliah peternakan, tapi bisa beternak sapi seperti ini. Bisa berkembang biak, bisa tumbuh gemuk. Jadi, asal pemerintah serius memberi dukungan, peternakan kita juga bisa maju kok nggak perlu mengandalkan impor,” pungkas dia.

(dna/drk)

Dana Aditiasari – detikfinance
%d bloggers like this: